Jumat, 04 Juli 2014

mengenal dokter pribadi dalam tubuh kita

Sistem imun merupakan hal yang rumit sekaligus menakjubkan. Beruntunglah, Sang Pencipta memberikan bayi suatu pertolongan. Kita sadar betapa pentingnya pemberian ASI (Air Susu Ibu) bagi kemampuan sistem imun. Dalam kondisi dunia yang semakin bahaya, kita diserang oleh berbagai agen penyebab penyakit (patogen). Sistem imun kita pun mengalami perubahan tidak menentu. Transfer Factor (TF), faktor imun utama pada kolostrum, dapat menjadi senjata utama tubuh kita menangkal pathogen. Transfer Factor melatih dan mendidik secara terus menerus sistem imun.
H.S. Lawrence menemukan transfer factor pada tahun 1949, ketika ia berhadapan dengan masalah penyakit tuberculosis (TBC). Apa yang ia coba temukan adalah keberadaan komponen darah yang dapat membawa sensitivitas tubercular dari seseorang yang telah sembuh dari TBC ke orang yang belum terkena. Transfusi darah secara keseluruhan dapat dilakukan, tapi hanya pada orang yang mempunyai golongan darah sama. Lawrence pada awalnya memisahkan sel-sel imun darah, sel limfosit atau sel darah putih, dari seluruh komponen darah. Kemudian ia memecah limfosit menjadi beberapa ukuran fraksi. Apa yang ia temukan adalah molekul fraksi terkecil yang dapat mentransfer sensitivitas tuberculin pada pasien sehat lain. Molekul inilah yang ia namakan transfer factor.
Transfer factors adalah molekul kecil berukuran 3,500-6,000 kDa berat molekul, terdiri dari oligoribonucleotides yang melekat pada molekul peptida. Dahulu, molekul ini hanya didapat dari proses dialisa (pemecahan) sel darah putih, tapi sekarang dapat disarikan dari bovine colostrum. Mereka diproduksi oleh sel limfosit-T dan dapat mentransfer kemampuan untuk mengenal pathogen kepada sel yang belum pernah kontak dengan pathogen tersebut (fungsi memori). Mereka juga memperkuat kemampuan sistem imun untuk bereaksi (fungsi inducer/perangsang) terhadap pathogen. Transfer factor memungkinkan sel-T lebih mengenal terhadap pathogen. Di sisi lain, Transfer Factor bisa bertindak sebagai produk gen yang membantu sel-T lain menyerang. (1)
Fungsi perangsangan/inducer transfer factor menghubungkan sel-sel imun berikatan dengan antigen, sehingga meningkatkan reaksi stimulus terhadap antigen. Fungsi supresi menahan reaksi berlebihan sel-T(2) dan memberi tanda pada sel untuk menurunkan respon imunnya. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya alergi atau kondisi autoimmune.

Peranan sel TH1, TH2
Sebelum kita mengerti kegunaan/fungsi transfer factor, sangat penting bila kita mengerti dulu tentang paradigma sel TH1 helper/TH2 helper. Sel limfosit T-helper berkembang menjadi 2 jenis sel. Sel TH1, mengatur imunitas seluler (cell-mediated immune), memproduksi: cytokines: IL-2, IFN-gamma, and TNF-alpha. Sel TH2 cells, mengatur imunitas humoral, atau produksi antibody, memproduksi: IL-4, IL-5, IL-6, IL-10, dan IL-13. Jika anda telah mengerti dan familiar dengan keadaan fenotip dominan TH1/TH2 pada seseorang, anda dapat lebih mudah mengidentifikasi kondisi tubuh atau kondisi penyakit pada orang tersebut dan membuat terapi yang tepat.
Respon sel imun seluler atau sel-TH1 helper sangat penting terhadap kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap berbagai serangan virus, jamur, parasit, kanker, dan organisme intraselular. Imunitas seluler dapat dites dengan:
1. Skin tests-delayed hypersensitivity skin 5. T-cell subsets;

testing; 6. IL-2R
2. Response to non-specific mitogens, 7. NK cell level;

such as phytohemagglutinin (PHA), 8. NK cell activity;

concavalina, or pokeweed mitogens; 9. IL1 assay; and
3. Response to specific mitogens, such as 10. IL2 and interferon gamma, and other

diptheria, tetanus, or candida;
cytokines
4. Response to alloantigens-mixed


lymphocyte reaction

Jika seseorang berada pada kondisi dominant-TH2, dimana terjadi penurunan imunitas selular dan penguatan imunitas humoral, maka kondisi yang akan terjadi adalah:
1. Allergies 9. Pertussis vaccination
2. Chronic sinusitis 10. Malaria
3. Atopic eczema 11. Helminth infection
4. Asthma 12. Hepatitis C
5. Systemic autoimmune conditions such 13. Chronic glardlasis

as lupus erythematosus and mercury- 14. Hypercortisolism

induced autoimmunity 15. Chronic candidiasis
6. Vacctination-induced state 16. Cancer
7. Certain cases of autism 17. Viral infections
8. Hyperinsulinism 18. Ulcerative colitis

A. Pada kondisi dominant-TH1, kondisi yang timbul adalah:
1. Diabetes type 1 7. Sjögren’s syndrome
2. Multiple sclerosis 8. Psoriasis
3. Rheumatoid arthritis 9. Sarcoidosis
4. Uveitis 10. Chronic Lyme disease
5. Crohn’s disease 11. H. Pylori infections
6. Hashimoto’s disease 12. E. histolytica
Pada kondisi hamil, terjadi keadaan dominant-TH2. Hal ini sangat baik untuk kondisi kehamilan. Bila berada pada kondisi dominan-TH1, atau respon imunitas seluler lebih dominant, akan menginduksi terjadinya penolakan terhadap fetus dan plasenta. (3) Karena reaksinya yang menstimulasi respon TH1 dalam banyak kasus, transfer factor sebaiknya tidak digunakan selama kehamilan normal. Penyakit autoimun tertentu, seperti multiple sclerosis dan rheumatoid arthritis, yang terjadi pada kondisi dominant-TH1, akan membaik selama kehamilan. (4)
Kondisi dominant-TH1 secara umum tidak dapat ditolong oleh transfer factor. Namun beberapa penyakit seperti rheumatoid arhtritis, multiple sclerosis, and Crohn’s disease, dapat timbul sebagai akibat adanya infeksi atau reaksi terhadap patogen. Jika respon TH1 tidak cukup adekuat untuk mendorong sistem imun menyerang mikroba, maka transfer factor akan meningkatkan proses penyerangan tersebut dan sangat efektif pada kasus-kasus tertentu. Secara klinis hal ini dapat terjadi pada kasus-kasus seperti: Crohn’s disease, multiple sclerosis, and chronic Lyme disease, dimana terjadi kondisi dominant-TH1.
Transfer factor dapat meningkatkan fungsi imunitas seluler atau mendorong terjadinya kondisi TH2 menjadi TH1. Hal ini sangat berguna pada keadaan dominan-TH2. Secara normal, pada saat terpapar bakteri dan infeksi pada masa kanak-kanak, yang ada pada kondisi dominant-TH2, maka kondisi TH1 akan ditingkatkan sehingga kemudian terjadi keseimbangan TH1/TH2. (5) Jika kondisi dominant-TH2 tetap terjadi, akan mengakibatkan terjadinya atopic, atau keadaan alergi. Kita melihat hal ini dengan semakin banyaknya tingkat kejadian allergic symptoms, postnasal drip, asthma, dsb.
Di sisi lain akibat kondisi dominant-TH2 adalah penurunan TH1 atau imunitas seluler. Sehingga kita melihat makin banyak terjadinya kasus infeksi virus, infeksi jamur, dan kanker. Vaksinasi diberikan untuk mendorong terciptanya kondisi TH2. Untuk membantu mengatasi masalah ini, kita dapat menggunakan Transfer factor sebelum dan sesudah imunisasi.

Cancer, Cell-mediated Immunity (TH1), and Transfer FactorKarena kanker berhubungan dengan kondisi defisiensi/penurunan kondisi TH1, transfer factor harus dipertimbangkan pada terapi peningkatan imun pasien kanker. Faktor-faktor yang dapat menurunkan imunitas seluler/TH1 dan terjadi peningkatan dominant-TH2 adalah: umur, perawatan kanker yang sitotoksik, stress setelah pembedahan, penyakit metastatis, dll. (6) Cell-mediated immunity (CMI) dapat menjadi predictor tingkat morbiditas dan mortalitas pada usia di atas 60 tahun. Pada pasien dengan liver metastases atau colon rectal carcinoma, CMI adalah faktor prediksi seseorang dapat bertahan atau tidak. (7) Penurunan imunitas seluler seiring dengan peningkatan sirkulasi imun kompleks, mengindikasikan buruknya prognosis pada pasien kanker. (8) Penelitian menunjukkan bahwa pada pasien dengan kanker kulit multiple terdapat kerusakan/penurunan CMI. (9) Pada penelitian pasien kanker rahim, yang dibandingkan dengan grup control, mereka yang menjalani kemoterapi terjadi penurunan pada parameter imunnya (seperti, penurunan cell-mediated immunity), sementara grup yang menerima immunotherapy (dalam hal ini, thymopeptin) parameter imunnya berada dalam batas normal. (10,11)
Penurunan imunitas pada pasien kanker, menyebabkan mereka mudah terkena infeksi oleh berbagai virus, seperti herpes zoster and cytomegalovirus (CMV). Infeksi terjadi sebagai akibat dari terapi cytotoxic therapy dan defisiensi imunitas seluler / TH1. (12) Kondisi dominant-TH1, ditandai dengan peningkatan jumlah IL-2 dan IFN-gamma, bertindak sebagai stimulator imun dan membatasi pertumbuhan tumor. Sebaliknya, kondisi dominant-TH2, ditandai dengan IL-4 and IL-10 cytokines, bertindak sebagai penghambat imun dan menstimulasi pertumbuhan tumor. Perkembangan HIV menjadi infeksi HHV8 disertai Kaposi sarcoma, ulcerative colitis, berkembangnya kanker kolon, obesitas, dan peningkatan kejadian terjadinya karsinoma, semuanya adalah berhubungan dengan peningkatan kondisi TH2 (dan penurunan kondisi TH1). Studi menunjukkan bahwa pergeseran kondisi menjadi dominant-TH2 terjadi sebelum transformasi kanker. Ketika sel kanker tumbuh, sel menjadi semakin hypoxic. Hal ini menyebabkan imunitas seluler lebih tertekan, dan terjadi penurunan daya tahan. Studi menunjukkan bahwa respon imun TH2 berhubungan dengan kondisi proangiogenesis, yang memfasilitasi pertumbuhan kanker. (13)
Transfer factor menunjukkan kemampuan memperbaiki imunitas seluler pada pasien yang mengalami penurunan imunitas. (14) Karena Transfer Factor dapat meningkatkan imunitas seluler atau TH1, maka ia sangat menolong pada kondisi seperti ini. Sebagai contoh, dengan memerintahkan cell-mediated immunity melawan pengganggu dan antigen spesifik pada jaringan prostate, Transfer Factor sangat efektif pada perawatan Kanker prostate yang sudah metastasis pada stadium D3 hormone-unresponsive. Follow-up menunjukkan peningkatan rata-rata hidup pada 50 pasien, dengan penyembuhan total pada 2 pasien, kemungkinan sembuh pada 6 pasien, dan tidak terjadinya metastasis pada semua pasien. (14,15) Penggunaan Transfer factor menunjukkan perbaikan pertahanan sebagai suatu hal penting untuk menghentikan perkembangan sel kanker. (16)
Sebelum transfer factor dapat diekstrak dari kolostrum, ia hanya dapat diperoleh dari hasil dialisa leukosit (DLE=dialyzed leukocyte extract). Pada literature dikatakan bahwa DLE antigen tertentu telah digunakan untuk berbagai kondisi infeksi virus, kondisi autoimun, dan kanker tertentu. Telah ditemukan bahwa DLE memfasilitasi imun untuk menjadi antigen tumor. It has been found that DLE facilitated immunity to tumor-associated antigen. Fudenburg menunjukkan bahwa transfer factor dari donor terpilih dapat meningkatkan respon awal sel pada pasien dengan osteogenik sarcoma.
Salah satu faktor yang melemahkan sel imun pertahanan awal tubuh kita adalah lingkungan (seperti bahan kimia atau polusi logam berat). Penelitian telah menunjukkan bahwa pemaparan dalam waktu lama oleh polychlorinated hydrocarbons dapat menekan proses fagositosis, penurunan aktivitas NK sel, dan penurunan respon limfosit pada tikus. (17) berakibat pada penurunan pengaturan sistem imun, dengan respon TH2 yang lebih dominant, terjadi bila terpapar dengan merkuri. Sehingga respon TH1 tidak membaik, meningkatkan kasus terjadinya kanker hingga penyakit autoimun. (18)

Viral Infections
Dalam pengobatan dewasa ini, kita melihat meningkatnya permasalahan dengan infeksi virus, seperti otitis media, cacar, infeksi kronis, Epstein-Barr virus (EBV). CMV acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), hepatitis, dan West Nile virus. Kita menggunakan berbagai perawatan beragam, mulai dari interferon hingga azidothymidine (AZT), ribavirin, and relenza. Walaupun dengan semua senjata imun teknologi tinggi telah digunakan, kita masih sering kalah perang dengan virus-virus tersebut.
Pada terapi infeksi virus, transfer factor menyediakan modal dasar yang bekerja pada tingkat yang paling dasar dan utama. Transfer factor dapat menginduce interferon pada pasien dengan infeksi virus. (19)
Infeksi virus mengindikasikan peningkatan kondisi TH2 dan penurunan kondisi TH1. Hal yang sama juga terjadi pada infeksi jamur, parasit, dan penyakit kanker. Infeksi bakteri juga berhubungan dengan penurunan kondisi dominant-TH2.
Dengan merangsang TH1, transfer factor sangat menguntungkan pada perawatan pasien hepatitis. Pada hepatitis C, kondisi dominant-TH2 berperan penting dalam perkembangan hepatitis kronis. Perangsangan TH1 menghasilkan pembersihan partikel-partikel virus dan penyembuhan hepatitis. (20,21) Studi menunjukkan pasien cacar dan komplikasinya telah sukses berhasil disembuhkan dengan non-specific transfer factor. Gejala dapat dihilangkan dalam waktu 24 jam tanpa efek samping. (22)
Satu teori mengatakan bahwa satu mekanisme yang terlibat pada kelainan autisme adalah ketidakseimbangan imun terhadap pole imunitas TH2, sebagai hasil dari vaksinasi (measles, mumps, and rubella). Akhir-akhir ini, dilakukan studi untuk menguji coba efektivitas transfer factor sebagai modulator imun pada kelainan autisme ini.
Telah diketahui bahwa virus sangat berperan pada etiologi Otitis media akut (AOM = acute otitis media) pada anak-anak. Pada studi tentang AOM, 75% anak-anak positif menderita virus seperti respiratory syncytial virus (RSV), para influenza, and influenza, dan 48% memiliki virus penyebab pada efusi telinga tengah. (23) Virus-virus ini bekerja sebagai pendahulu dari infeksi bakteri spesifik AOM. (24) Terjadi hasil yang sangat bagus pada perawatan awal dan pencegahan otitis media dengan menggunakan transfer factor.
Beberapa persen penderita asma memiliki gejala infeksi pernafasan, kebanyakan akibat dari infeksi virus. Studi penggunaan transfer factor pada pasien asma menunjukkan bahwa sekitar 50% pasien dapat menghentikan penggunaan steroidnya, dan separuhnya lagi dapat menurunkan dosis penggunaan steroidnya. Secara umum, terjadi penurunan biaya rumah sakit. Penggunaan transfer factor memperbaiki imunitas selular. Tidak terjadi efek samping dan reaksi alergi. (25)
Dalam kasus-kasus alergi, Kahn melaporkan peningkatan kejadian infeksi, seperti para influenza virus, syncytial virus, adenovirus, etc., sebagai faktor predisposisi pada anak-anak penderita asma. Ditemukan juga bahwa anak dengan asma punya kecenderungan cepat terkena infeksi. (26) 12 dari 15 anak mengalami ketidaksempurnaan pada imunitas sel-T, walau beberapa diantaranya tidaklah parah. (27) Hal ini menjadi perhatian bahwa fungsi sel mediated imun yang tidak sempurna menjadi faktor pada penyakit-penyakit virus.
Telah diteliti bahwa wanita dengan infeksi human papilloma virus (HPV) memiliki ketidaksempurnaan mekanisme proteksi dari cell-mediated immunity. (28) Keadaan perubahan kondisi dominant-TH1 ke TH2 dalam pola cytokine berhubungan dengan semakin parahnya infeksi HPV. Peningkatan masalah gynecological ditemukan sebagai penyebab kedua pada infeksi HPV. Potensi transfer factor pada infeksi HPV perlu digali lebih lanjut.    4lifekarawang.wordpress.com